Pada umumnya prostesis untuk amputasi jari dan tangan berupa kosmetik.
Tetapi prostesis dapat didesign untuk meningkatkan fungsi tangan. Yang
diperlukan adalah socket sebagai anchor dari jari-jari prostesis. Socket
akan ditanam kawat tembaga sehingga dapat dibengkokkan sesuai bentuk
jari yang ingin difungsikan. Socket ini akan dilapisi dengan glove
cosmetic yang sebelumnya sudah disesuaikan dengan besarnya socket.
Berikut adalah contoh design partial hand amputation prostheses dengan
"endoskeleton".
Minggu, 24 Februari 2013
Rabu, 13 Februari 2013
Selasa, 11 Desember 2012
SENAM BESER
Senam Beser Masal Versi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD dr. Soetomo.
Sumber : Satyawati, R. & Wulan S.M.M. Seminar Surabaya Bebas Beser. 9 -10 April 2011
Jumat, 29 Mei 2009
Trauma pada Pleksus Brakialis
Ramus anterior saraf spinal C5 sampai T1 bergabung membentuk pleksus brakialis. C5 dan C6 berbgabung membentuk trunk superior, C7 membentuk trunk medial, dan C8 dan T1 bergabung membentuk trunk inferior. Cord medial merupakan divisi anterior dari trunk inferior. Divisi anterior yang berasal dari upper dan middle trunk membentuk cord lateral.Divisi posterior berasal 3 trunk membentuk posterior cord. Dari ketiga cord tersebut keluar cabang saraf yang menginervasi anggota gerak atas antara lain n muskulokutaneus berasal dari cord lateral, n medianus berasal dari cord lateral dan medial, n radialis dari cord posterior, n aksilaris dari cord posterior dan n ulnaris dari cord medial.
Long thorasic dan dorsal scapular berasal langsung dari root saraf spinal. Hanya n suprascapular (C5 C6) yang berasal dari trunk.
Saraf spinal keluar dari foramina vertebralis dan melewati scalenus anterior dan medial, kemudian antara klavikula dan rusuk pertama didekat coracoid dan caput humerus. Pleksus pada bagian praosimal bergabung di prevertebral dan oleh axillary sheath di mid arm.
PENYEBAB
Ada banyak kemungkinan penyebab lesi pleksus brakialis. Trauma adalah penyebab yang paling sering, selain itu juga kompresi lokal seperti pada tumor, idiopatik, radiasi, post operasi dan cedera saat lahir.
PATOFISIOLOGI
Bagian cord akar saraf dapat terjadi avulsi atau pleksus mengalami traksi atau kompresi. Setiap trauma yang meningkatkan jarak antara titik yang relatif fixed pada prevertebral fascia dan mid fore arm akan melukai pleksus.
Traksi dan kompresi dapat juga menyebabkan iskemi, yang akan merusak pembuluh darah. Kompresi yang berat dapat menyebabkan hematome intraneural, dimana akan menjepit jaringan saraf sekitarnya.
KLASIFIKASI LESI
1. Lesi Upper Plexus
Erb-Duchenne Paralysis (C5 C6)
Kelemahan atau paralisis pada bahu dan bicep, kadang disertai trauma pada root C7 yang menyebabkan
paralisa lengan bawah.
2. Lesi Lower Plexus
Dejerine-Klumpke’s Paralysis (C8 T1)
Kadang disertai kerusakan root C7, paralisis pada otot intrisik tangan dan fleksor jari yang menyebabkan
kehilangan fungsi tangan dan lengan bawah. Sering terjadi sympathetic palsy – Horner’s syndrome
3. Lesi Total Brachial
Erb-Klumpke Paralysis (C5 – T1)
Komplet paralisis dan anestesi dari lengan
4. Lesi Posterior Cord
Mengenai root C5 C6 C7 C8, paralisis pada deltoid, ekstensor elbow, ekstensor wrist, extensor fingers.
GAMBARAN KLINIS
Terdapat riwayat trauma yang melibatkan ekstensi servikal, rotasi, lateral bending, dan depresi atau hiperabduksi dari bahu. Pasien juga mengeluhkan kelemahan, kehilangan sensori, parasetesia pada lengan.
Mekanisme trauma dapat berupa tarikan, luka tembus, hantaman atau kompresi
Pemeriksaan dilakukan pada tulang leher, bahu, kalvikula, skapula serta sendi untuk luas gerak sendi, alignment, dan tender point.
Pemeriksaan neurologis meliputi pemeriksaan motorik, pemeriksaan sensorik dan reflek tendon dalam
Pemeriksaan sensorik dapat berupa light touch sensation, pinprick sensation, 2-point discrimination, vibrasi dan proprioseptif
Evaluasi juga dilakukan untuk memeriksa joint instability, dan winging skapula, pola atrofi otot dibandingkan dengan sisi yang sehat, tanda-tanda sindrom Horner, serta pemeriksaan untuk spinal cord dan brain injury.
DIAGNOSA BANDING
Guilain-Barre Syndrome
Multiple Sclerosis
Spinal Cord Injury
Traumatic Brain Injury
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Radiografi
1. Foto vertebra servikal untuk mengetahui apakah ada fraktur pada vertebra servikal
2. Foto bahu untuk mengetahui apakah ada fraktur skapula, klavikula atau humerus.
3. Foto thorak untuk melihat disosiasi skapulothorak serta tinggi diafragma pada kasus paralisa saraf
phrenicus.
EMG – NVC
1. Pemeriksaan NCV untuk mengetahui system motorik dan sensorik, kecepatan hantar saraf serta latensi
distal.
SNAPs (sensory nerve action potentials) berguna untuk membedakan lesi preganglionic atau lesi
postganglionic. Pada lesi postganglionic, SNAPs tidak didapatkan tetapi positif pada lesi preganglionic.
2. Pemeriksaan EMG dengan jarum pada otot dapat tampak fibrilasi, positive sharp wave (pada lesi
axonal), amplitudo dan durasi.
SSEP (Somatosensory evoked potensials)
Berguna untuk membedakan lesi proksimal misalnya pada root avulsion
MRI dan CT SCAN
Untuk melihat detail struktur anatomi dan jaringan lunak saraf perifer.
PENATALAKSANAAN
BEDAH
Regangan dan memar pada pleksus brakialis diamati selama 4 bulan, bila tidak ada perbaikan, pleksus harus dieksplor. Nerve transfer (neurotization) atau tendon transfer diperlukan bila perbaikan saraf gagal.1
1. Pembedahan Primer
Pembedahan dengan standart microsurgery dengan tujuan memperbaiki injury pada plexus serta
membantu reinervasi. Teknik yang digunakan tergantung berat ringan lesi.
1. Neurolysis : Melepaskan constrictive scar tissue disekitar saraf.
2. Neuroma excision : Bila neuroma besar, harus dieksisi dan saraf dilekatkan kembali dengan teknik
end-to-end atau nerve grafts
3. Nerve grafting: Bila “gap” antara saraf terlalu besar, sehingga tidak mungkin dilakukan tarikan. Saraf yang
sering dipakai adalah n suralis, n lateral dan medial antebrachial cutaneous, dan cabang terminal sensoris
pada n interosseus posterior
4. Neurotization : Neurotization pleksus brachialis digunakan umumnya pada kasus avulsi pada akar saraf
spinal cord. Saraf donor yang dapat digunakan : hypoglossal nerve, spinal accessory nerve, phrenic
nerve, intercostal nerve, long thoracic nerve dan ipsilateral C7 nerve. Intraplexual neurotization
menggunakan bagian dari root yang masih melekat pada spinal cord sebagai donor untuk saraf yang
avulsi.
2. Pembedahan Sekunder
Tujuan untuk meningkatkan seluruh fungsi extremitas yang terkena. Ini tergantung saraf yang terkena. Prosedurnya berupa tendon transfer, pedicled muscle transfers, free muscle transfers, joint fusions and rotational, wedge or sliding osteotomies.
REHABILITASI PASKA TRAUMA PLEKSUS BRAKIALIS
Paska operasi Nerve repair dan graft.
Setelah pembedahan immobilisasi bahu dilakukan selama 3-4 minggu. Terapi rehabilitasi dilakukan setelah 4 minggu paska operasi dengan gerakan pasif pada semua sendi anggota gerak atas untuk mempertahankan luas gerak sendi. Stimulasi elektrik diberikan pada minggu ketiga sampai ada perbaikan motorik. Pasien secara terus menerus diobservasi dan apabila terdapat tanda-tanda perbaikan motorik, latihan aktif bisa segera dimulai. Latihan biofeedback bermanfaat bagi pasien agar otot-otot yang mengalami reinnervasi bisa mempunyai kontrol yang lebih baik.
Paska operasi free muscle transfer
Setelah transfer otot, ekstremitas atas diimobilisasi dengan bahu abduksi 30, fleksi 60 dan rotasi internal, siku fleksi 100. Pergelangan tangan posisi neutral, jari-jari dalam posisi fleksi atau ekstensi tergantung jenis rekonstruksinya.
Ekstremitas dibantu dengan arm brace dan cast selama 8 minggu, selanjutnya dengan sling untuk mencegah subluksasi sendi glenohumeral sampai pulihnya otot gelang bahu.
Statik splint pada pergelangan tangan dengan posisi netral dan ketiga sendi-sendi dalam posisi intrinsik plus untuk mencegah deformitas intrinsik minus selama rehabilitasi. Dilakukan juga latihan gerak sendi gentle pasif pada sendi bahu, siku dan semua jari-jari, kecuali pada pergelangan tangan.
Pemberian elektro stimulasi pada transfer otot dan saraf yang di repair dilakukan pada target otot yg paralisa seperti pada otot gracilis, tricep brachii, supraspinatus dan infraspinatus.
Elektro stimulasi intensitas rendah diberikan mulai pada minggu ketiga paska operasi dan tetap dilanjutkan sampai EMG menunjukkan adanya reinervasi.
Enam minggu paska operasi selama menjaga regangan berlebihan dari jahitan otot dan tendon, dilakukan ekstensi pergelangan tangan dan mulai dilatih pasif ekstensi siku. Sendi metacarpal juga digerakkan pasif untuk mencegah deformitas claw hand.
Ortesa fungsional digunakan untuk mengimobilisasi ekstremitas atas. Dapat digunakan tipe airbag (nakamura brace) untuk imobilisasi sendi bahu dan siku.
Sembilan minggu paska operasi, ortesa airbag dilepas dan ortesa elbow sling dipakai untuk mencegah subluksasi bahu.
Setelah Reinervasi
Setelah EMG menunjukkan reinervasi pada transfer otot, biasanya 3 - 8 bulan paska operasi, EMG biofeedback dimulai untuk melatih transfer otot menggerakkan siku dan jari.
Teknik elektromiografi feedback di mulai untuk melatih otot yang ditransfer untuk menggerakkan siku dan jari dimana pasien biasanya kesulitan mengkontraksikan ototnya secara efektif.
Pada alat biofeedback terdapat level nilai ambang yang dapat diatur oleh terapis atau pasien sendiri. Saat otot berkontraksi pada level ini, suatu nada berbunyi, layar osciloskop akan merekam respons ini. Level ini dapat diatur sesuai tujuan yang akan dicapai.
Lempeng elektroda ditempelkan pada otot, kemudian pasien diminta untuk mengkontraksikan ototnya. Pada saat permulaan biasanya EMG discharge sulit didapatkan, tetapi dengan latihan yang kontinu, EMG discharge otot akan mulai tampak.
Latihan EMG biofeedback dilakukan 4 kali seminggu dan tiap sesi selama 10 - 70 menit, dan latihan segera dihentikan bila ada tanda-tanda kelelahan..
Efektivitas latihan biofeedback tidak dapat dicapai bila pasien tidak mempunyai motivasi dan konsentrasi yang cukup.
Reedukasi otot diindikasikan saat pasien menunjukkan kontraksi aktif minimal yang tampak pada otot dan group otot. Tujuan reedukasi otot untuk pasien adalah mengaktifkan kembali kontrol volunter otot. Ketika pasien bekerja dengan otot yang lemah, intensitas aktivitas motor unit dan frekuensi kontraksi otot akan meningkat. Waktu sesi terapi seharusnya pendek dan dihentikan saat terjadi kelelahan dengan ditandai penurunan kemampuan pasien mencapai tingkat yang diinginkan.
Pemanasan, ultrasound diatermi, TENS, interferensial stimulasi, elektro stimulasi dapat dipergunakan sesuai indikasi. Dilakukan juga penguatan otot-otot leher dan koreksi imbalans otot-otot ekstremitas atas.
Terapi Okupasi
Terapi okupasi terutama diperlukan untuk :
Memelihara luas gerak sendi bahu, membuat ortesa yg tepat untuk membantu fungsi tangan, siku dan lengan,
mengontrol edema defisit sensoris.
Melatih kemampuan untuk menulis, mengetik, komunikasi.
Menggunakan teknik-teknik untuk aktivitas sehari-hari, termasuk teknik menggunakan satu lengan,
menggunakan peralatan bantu serta latihan penguatan dengan mandiri.
Terapi Rekreasi
Terapi ini sebagai strategi dan aktivitas kompensasi sehingga dapat menggantikan berkurang dan hilangnya fungsi ekstremitas.
Ortesa pada paska Trauma Pleksus Brakialis
Pada umumnya penderita dengan injury pleksus brakialis akan menggunakan lengan disisi kontralateral untuk beraktivitas. Pada beberapa kasus, penderita memerlukan kedua tangan untuk melakukan aktivitas yang lebih kompleks. Untuk itu orthosis didesain sesuai kebutuhan penderita
Orthosis untuk penderita injury pleksus brakialis dibuat terutama untuk mensuport bagian bahu dan siku
Sedangkan untuk prehension tangan, umumnya terbatas pada metode kontrolnya sehingga tidak banyak didesain. Beberapa orthosis digerakkan menggunakan sistem myoelektrik, sehingga penderita mampu melakukan gerakan pada pergelangan tangan dan pinch pada jari-jarinya
Orthosis ini dapat membantu penderita paska trauma untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan dan minum dari gelas atau botol, menyisir rambut, menggosok gigi, menulis menggambar, membuka dan menutup pintu, membawa barang-barang.
Kamis, 16 Oktober 2008
SPINA BIFIDA
I. DEFINISI
Spina Bifida termasuk dalam kelompok neural tube defect yaitu suatu celah pada tulang belakang yang terjadi karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh.
Hal ini dapat terjadi saat beberapa minggu (21 minggu sampai dengan 28 minggu) setelah konsepsi.
II. PENYEBAB
Faktor genetik dan lingkungan (nutrisi atau terpapar bahan berbahaya) dapat menyebabkan resiko melahirkan anak dengan spina bifida.
Pada 95 % kasus spina bifida tidak ditemukan riwayat keluarga dengan defek neural tube. Resiko akan melahirkan anak dengan spina bifida 8 kali lebih besar bila sebelumnya pernah melahirkan anak spina bifida.
Terdapat beberapa jenis spina bifida:
1. Spina bifida occulta : Defek tidak tampak, jarang menimbulkan gejala atau komplikasi. Satu atau beberapa vertebra tidak terbentuk secara normal, tetapi korda spinalis dan selaputnya (meningens) tidak menonjol. Ditemukan tidak sengaja saat penderita dilakukan foto x-ray
2. Meningocele : meningens menonjol melalui vertebra yang tidak utuh dan teraba sebagai suatu benjolan berisi cairan di bawah kulit.
3. Spina bifida cystica (Myelomeningocele): jenis spina bifida yang kompleks dan paling berat, dimana korda spinalis menonjol dan keluar dari tubuh, kulit diatasnya tampak kasar dan merah.

Gambar 1 Jenis Spina Bifida
III. GEJALA SPINA BIFIDA
Gejala yang timbul disebabkan oleh komplikasi pada spina bifida antara lain :
- Abnormalitas pada lower spine selalu bersamaan dengan abnormalitas upper spine (Arnold Chiari malformation) yang menyebabkan masalah koordinasi
- Deformitas pada spine, hip, foot dan leg sering oleh karena imbalans kekuatan otot dan fungsi
- Masalah bladder dan bowel berupa ketidakmampuan untuk merelakskan secara volunter otot (sphincter) sehingga menahan urine pada bladder dan feses pada rectum.
- Hidrosefalus mengenai 90% penderita spina bifida. Inteligen dapat normal bila hirosefalus di terapi dengan cepat.
- Anak-anak dengan meningomyelocele banyak yang mengalami tethered spinal cord. Spinal cord melekat pada jaringan sekitarnya dan tidak dapat bergerak naik atau turun secara normal. Keadaan ini menyebabkan deformitas kaki, dislokasi hip atau skoliosis. Masalah ini akan bertambah buruk seiring pertumbuhan anak dan tethered cord akan terus teregang.
- Obesitas oleh karena inaktivitas
- Fraktur patologis pada 25% penderita spina bifida, disebabkan karena kelemahan atau penyakit pada tulang.
- Defisiensi growth hormon menyebabkan short statue
- Learning disorder
- Masalah psikologis, sosial dan seksual
- Alergi karet alami (latex)
VI. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan dan Tes
Pada prenatal tes diukur tingkat maternal serum alpha-fetoprotein (MSAP atau AFP). Didapatkan hasil tinggi pada wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida (85%) atau defek neural tube lainnya.
Tes ini memiliki angka positif palsu yang tinggi, karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat diagnosis. Dilakukan USG yang biasanya dapat menemukan adanya spina bifida.
Tes ini disebut juga triple screen yang terdiri dari pemeriksaan AFP, ultrasound dan cairan amnion.
Pada evaluasi anak dengan spina bifida, dilakukan analisis melalui riwayat medik, riwayat medik keluarga dan riwayat kehamilan dan saat melahirkan.
Pemeriksaan fisik dipusatkan pada defisit neurologi, deformitas muskuloskeletal dan evaluasi psikologis. Pada anak yang lebih besar dilakukan asesmen tumbuh kembang, sosial dan gangguan belajar.
Pemeriksaan x-ray digunakan untuk mendeteksi kelainan tulang belakang, skoliosis, deformitas hip, fraktur pathologis dan abnormalitas tulang lainnya. USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis maupun vertebra dan lokasi fraktur patologis. CT scan kepala untuk mengevaluasi hidrosepalus dan MRI tulang belakang untuk memberikan informasi pada kelainan spinal cord dan akar saraf.
VII. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada penderita spina bifida memerlukan koordinasi tim yang terdiri dari spesialis anak, saraf, bedah saraf, rehabilitasi medik, ortopedi, endokrin, urologi dan tim terapi fisik, ortotik, okupasi, psikologis perawat, ahli gizi sosial worker dan lain-lain.
VII.1 Urologi
Dalam bidang urologi, terapi pada disfungsi bladder dimulai saat periode neonatal sampai sepanjang hidup. Tujuan utamanya adalah :
1. Mengontrol inkotinensia
2. Mencegah dan mengontrol infeksi
3. Mempertahankan fungsi ginjal
Intermiten kateterisasi dapat dimulai pada residual urin > 20 cc dan kebanyakan anak umur 5 - 6 tahun dapat melakukan clean intermittent catheterization (CIC) dengan mandiri.
Bila terapi konservatif gagal mengontrol inkontinensia, prosedur bedah dapat dipertimbangkan. Untuk mencegah refluk dapat dilakukan ureteral reimplantasi, bladder augmentation, atau suprapubic vesicostomy.
VII.2 Orthopedi
Tujuan terapi ortopedi adalah memelihara stabilitas spine dengan koreksi yang terbaik dan mencapai anatomi alignment yang baik pada sendi ekstremitas bawah.
Dislokasi hip dan pelvic obliquity sering bersama-sama dengan skoliosis paralitik. Terapi skoliosis dapat dengan pemberian ortesa body jacket atau Milwaukee brace. Fusi spinal dan fiksasi internal juga dapat dilakukan untuk memperbaiki deformitas tulang belakang.
Imbalans gaya mekanik antara hip fleksi dan adduksi dengan kelemahan abduktor dan fungsi ekstensor menghasilkan fetal coxa valga dan acetabulum yang displastik, dangkal dan parsial. Hip abduction splint atau Pavlik harness digunakan 2 tahun pertama untuk counter gaya mekaniknya.
Pemanjangan tendon Achilles untuk deformitas equinus, flexor tenodesis atau transfer dan plantar fasciotomi untuk deformitas claw toe dan pes cavus yang berat. Subtalar fusion, epiphysiodesis, triple arthrodesis atau talectomi dilakukan bila operasi pada jaringan lunak tidak memberikan hasil yang memuaskan.
VII.3 Rehabilitasi Medik
Sistem Muskuloskeletal
Latihan luas gerak sendi pasif pada semua sendi sejak bayi baru lahir dilakukan seterusnya untuk mencegah deformitas muskuloskeletal. Latihan penguatan dilakukan pada otot yang lemah, otot partial inervation atau setelah prosedur tendon transfer
Perkembangan Motorik
Stimulasi motorik sedini mungkin dilakukan dengan memperhatikan tingkat dari defisit neurologis.
Ambulasi
Alat bantu untuk berdiri dapat dimulai diberikan pada umur 12 – 18 bulan. Spinal brace diberikan pada kasus-kasus dengan skoliosis.
Reciprocal gait orthosis (RGO) atau Isocentric Reciprocal gait orthosis (IRGO) sangat efektif digunakan bila hip dapat fleksi dengan aktif.
HKAFO digunakan untuk mengkompensasi instabilitas hip disertai gangguan aligment lutut. KAFO untuk mengoreksi fleksi lutut agar mampu ke posisi berdiri tegak.
Penggunaan kursi roda dapat dimulai saat tahun kedua terutama pada anak yang tidak dapat diharapkan melakukan ambulasi.

Gambar 2. Reciprocal gait orthosis (RGO)
Bowel training
Diet tinggi serat dan cairan yang cukup membantu feses lebih lunak dan berbentuk sehingga mudah dikeluarkan. Pengeluaran feses dilakukan 30 menit setelah makan dengan menggunakan reflek gastrokolik. Crede manuver dilakukan saat anak duduk di toilet untuk menambah kekuatan mengeluarkan dan mengosongkan feses
Stimulasi digital atau supositoria rektal digunakan untuk merangsang kontraksi rektal sigmoid. Fekal softener digunakan bila stimulasi digital tidak berhasil.
VIII. PROGNOSIS
Prognosis spina bifida tergantung pada berat ringannya abnormalitas. Prognosis terburuk bila terdapat paralisis komplet, hidrosefalus dan defek kongenital lainnya. Dengan penanganan yang baik, sebagian besar anak-anak dengan spina bifida dapat hidup sampai usia dewasa.
IX. PENCEGAHAN
Resiko terjadinya spina bifida bisa dikurangi dengan mengkonsumsi asam folat. Kekurangan asam folat pada seorang wanita harus dikoreksi sebelum wanita tersebut hamil, karena kelainan ini terjadi sangat dini.
Kepada wanita yang berencana untuk hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi asam folat sebanyak 400 mcg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari.
PUSTAKA
1. Molnar GE, Murphy KP, Spina Bifida In: Pediatric Rehabilitation, 3rd ed, Hanley & Helfus Inc, Philadelphia:p219-40
2. Foster MR. Spina Bifida..http://www.emedicinehealth.com/spina_bifida.Downloaded at 11/11/07. 09:12
3. Spina Bifida. http://naya.web.id/2007/01/25/spina-bifida/ Downloaded at 11/11/07. 11:13
4. Spina Bifida. http://www.mayoclinic.com/health/spina-bifida/DS00417/DSECTION=2 Downloaded at 11/11/07. 12:42
5. RGO Introduction http://www.centerfororthoticsdesign.com/ isocentric_rgo /index.html. Downloaded at 14/11/07.11:12
6. Spina Bifida Association. Toilet Training the Child with Spina Bifida. Toilet Training the Child with Spina Bifida.Downloaded at 11/4/07. 02:07
7. Southwest Institute for Families and children with special needs. Spina Bifida. www.hrtw.org/tools/pdfs/spina_bifida.pdf .Downloaded at 11/4/07. 04:27
8. Spina Bifida. http://www.wrongdiagnosis.com/s/spina_bifida/prognosis.htm. Downloaded at 04/12/07. 10:16
Rabu, 10 September 2008
AMPUTASI BAWAH SIKU
INDIKASI AMPUTASI
Tindakan amputasi dilakukan apabila secara maksimal terapi yang diberikan dinyatakan gagal. Apley (1993) menyatakan indikasi amputasi adalah 3 D :
a. Dead (anggota tubuh yang mati): kelainan vaskuler, trauma, luka bakar atau "frost bite"
b. Dangerous (anggota tubuh yang membahayakan) : tumor ganas, infeksi yang mengarah ke
sepsis atau "crush injury" dengan resiko
c. Damn Nuisance (anggota tubuh yang mengganggu) : kelainan kongenital, nyeri yang hebat,
gangguan fungsi yang berat atau infeksi kronis yang berulang.(1)
LEVEL AMPUTASI ANGGOTA GERAK ATAS
Terdapat level - level optimal amputasi, tetapi level optimal tersebut tidak dapat dipilih khususnya pada kasus trauma misalnya kecelakaan. Prinsip tindakan bedah adalah mempertahankan jaringan lunak yang hidup dan tulang sepanjang mungkin, tetapi untuk pemasangan prostesis dengan potongan sedikit dari level optimal perlu dipertimbangkan.
Level amputasi pada above elbow diukur dari akromion sampai ujung puntung, pengukuran dibandingkan dengan sisi yang sehat (akromion sampai epikondilus lateralis), dan dinyatakan dengan prosentase:
Level amputasi bawah siku diukur dari epikondilus medialis ke ujung ulna atau radius dari puntung dan dibandingkan ke ujung prosesus stiloid ulna pada sisi sehat. (3,7)

Level Amputasi Anggota Gerak Atas
TEKNIK OPERASI DAN EVALUASI
Teknik dari amputasi terdiri dari :
1. Myodesis
2. Myoplasti (1,5)
Teknik dan indikasi dari tindakan amputasi untuk evaluasi dari puntung sangat penting. Hal yang perlu dievaluasi adalah :
1. Kondisi secara umum yaitu status mental penderita dan kondisi fisik penderita (vital sign,
penyakit penyerta)
2. Kondisi secara lokal (puntung) yaitu panjang puntung, bentuk puntung, tipe dan posisi dari
jaringan parut insisi, luas gerak sendi dan stabilitas dari persendian.(3,4,6)
DEFINISI PROSTESIS
Prostesis adalah suatu alat pengganti bagian tubuh yang hilang. Prostesis ini mengganti fungsi yang sangat komplek dari anggota gerak. Prostesis ekstremitas atas diperlukan pada defisiensi tulang kongenital atau amputasi karena trauma atau penyakit. Prostesis ekstremitas atas dipakai untuk tujuan kosmetik atau untuk fungsional. Prostesis ekstremitas atas dirancang untuk memberikan kembalinya fungsi semaksimal mungkin. Dan mengorbankan kosmetik sesedikit mungkin.(3,4)
PENANGANAN REHABILITASI PENDERITA AMPUTASI
Penanganan rehabilitasi penderita amputasi ada beberapa tahap, yaitu:
a. Penanganan Sebelum Prostesis
1. Sebelum operasi
Sebelum menjalani operasi, penting dijelaskan mengenai persiapan sebelum operasi, komplikasi yang akan terjadi dan perawatan setelah operasi. Juga ditanyakan pada penderita kesediaan memakai prostesis dan jenis prostesis yang akan diberikan.
Pemberian latihan sebelum operasi dapat berupa :
a. Latihan penguatan dari seluruh otot
b. Latihan luas gerak sendi
c. Latihan untuk ADL
2. Setelah operasi
a. Penyembuhan luka operasi yang adekuat
b. Mengontrol nyeri
c. Melihat performa dari ADL nya
d. Mobilitas
e. Mempertahankan luas gerak sendi dari bagian anggota gerak yang diamputasi
f. Menyiapkan stump untuk pengukuran prostesis
g. Menerangkan mengenai pengukuran dan perawatan prostesis
h. Mensuport terhadap perubahan akibat amputasinya
b. Penanganan Stump
Untuk mempercepat kesembuhan luka, mencegah trauma, mengurangi edema, serta mengurangi nyeri dapat diberikan a plester of Paris atau rigid dressing yang terbuat dari fiberglass jika tidak ada rigid dressing dapat dipakai elastic bandage atau elastic stockinette dan harus dipakai selama 24 jam kecuali saat mandi atau saat luka dibersihkan.
c. Penanganan Pemasangan Prostesis
Melalui beberapa tahap :
1. Prosthesis fitting
Dimulai bila stump sudah siap untuk casting kemudian dilanjutkan dengan definitive prosthesis. Selain kondisi stump perlu diperhatikan keadaan di bawah ini
a. Keadaan kulit yang menutup stump
b. Luas gerak sendi dari stump
c. Kekuatan otot
d. Kontrol motorik
e. Kelainan saraf

Stump Myoplasti
2. Tujuan pembuatan prostesis
Prostesis dibuat dengan 3 tujuan yaitu :
a. Fungsional
b. Kosmetik
c. Fungsional dan kosmetik
Prostesis dapat direncanakan secara khusus misalnya untuk spesifik vokasional, rekreasional, keperluan sosial atau pengoperasiannya dengan elektrik. Dengan makin berkembangnya bahan yang ditemukan, design baru, dan teknik fitting yang baik dapat tercapai hasil yang optimal artinya prostesis tersebut dibuat lebih nyaman kalau dipakai, indah, dan sesuai dengan tujuan fungsional.
3. Preparatory prosthesis
Keuntungan dari preparatory prostesis adalah bila keadaan stumpnya sudah matur. Pasien biasanya diijinkan untuk mencoba beberapa bulan sebelumnya dalam memakai prostesis untuk menentukan prostesis apa yang kelak akan dicapai. Selama tes percobaan tersebut, diharapkan pasien dapat mempelajari apa yang kelak akan dilakukan dengan prostesis tersebut.
Kadang - kadang preparatory prosthesis tidak dapat diberikan karena masalah finansial. Pasien biasanya langsung memakai definitive (final) prosthesis. Jika pasien langsung memakai final prostesis tanpa dilakukan preparatory prostesis, hal ini harus ditunda sampai residual limb-nya matur (biasanya 3-4 bulan).
4. Definitive prosthesis
Pembuatan definitive prostesis mengikuti tahap :
a. Membuat cast pada stump
b. Membuat plaster positive pada stump
c. Memodifikasi plaster positive yang terbentuk dengan maksud mengurangi area yang
toleran terhadap tekanan dan menambah plaster ke area yang sensitive tekanan terhadap
stump.
d. Membuat socket
e. Mencoba socket
f. Membentuk plaster positive
g. Menyempurnakan socket dengan termoplastik atau pelapis socket

Proses Fitting

Definitive Prosthesis
5. Evaluasi akhir prostesis
Yang perlu dievaluasi adalah :
a. appropriate fitting (tepat / cocok)
b. alignment
c. length (3,4)
d. Karakteristik prostesis yang baik
Sebuah prostesis harus nyaman digunakan, mudah dilepas dan dipasang, ringan, daya tahan kuat, dan baik secara kosmetik. Prostesis juga harus berfungsi baik secara mekanik dan dapat mudah dirawat. Compliance prostesis sendiri sangat tergantung pada motivasi individu untuk memakainya. (8)
e. Beberapa pertimbangan saat memilih prostesis
1. Level amputasi
2. Fungsi yang diharapkan dari prostesis
3. Fungsi kognitif pasien
4. Pekerjaan pasien
5. Aktivitas yang diminati pasien (mis : hobby)
6. Penting tidaknya kosmetik pada prostesis
7. Sumber keuangan pasien (8)

Myoelectric Hand

Body Powered Terminal Device

Hybrid Terminal Device : SeeMED (Servo Electric Mechanical Terminal Device)
KOMPONEN BELOW ELBOW PROSTHESIS (BAWAH SIKU)
Prostesis atas siku terdiri dari :
a. Terminal Device
b. Wrist unit
c. Socket
d. Elbow Hinges
e. Harness suspension dan system control (3,4,7)

Komponen Below Elbow Prosthesis 3
PUSTAKA
1. Apley AG. Orthopaedic Operations. In : Apley’s System Of Orthopaedics and Fractures 7th Ed. Butterworth Heinemann. Oxford, 1993. pp 251-258.
2. Bender LF. Upper Extremity Prosthetics In : Kottke FJ, Lehmann JF. Krusen’s Handbook of Physical Medicine & Rehabilitation. WB. Saunders Company. Philadelphia, 1990.pp 1009 – 23.
3. Berger N. Upper Limb Prosthetic System In : The American Academy of Orthopaedic Surgeons. Atlas of Limb Prosthetics Surgical and prosthetic Principles. The CV. Mosby Company. Missouri, 1981.pp 97 – 158.
4. Celikyol Fg. Amputations and Prosthetics In : Occupational Therapy for Physical Dysfunction 5th Ed. Lippincott Williams & Wilkins. Maryland 2002.pp. 1045-1069
5. Esquenazi A. Upper Limb Amputee Rehabilitation and Prosthetic Restoration In : Braddom RL. Physical Medicine & Rehabilitation. 4th ed. WB. Saunders Company. Philadelphia, 1996.pp 275-88.
6. Reed KL. Amputation of an Upper Extremity – Adult In : Quick Reference to Occupational Therapy. Aspen Publishers. Maryland, 1991 pp. 212 -215.
7. Tan JC. Prostheses In : Practial Manual of Physical Medicine and Rehabilitation. The CV. Mosby Company. Missouri, 1998. pp 229-59.
8. Edward SG.Elbow and Above-Elbow Amputations. Downloaded at 12:23 PM.13/10/07 .www.emedicine.com
9. Daley BJ. Electrical Injury.Downloaded at 13.05 PM.13/10/07. www.emedicine.com /med/byname/Electrical-Injuries.htm
10. Kowalske K, Helm P, Burn in : Garrison SJ, Handbook of Physical Medicine and Rehabilitation, 2nd edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2003;67-78.
11. Rivers E, Fisher SV, Rehabilitation for burn Patient in : Krusen’s handbook of physical medicine and rehabilitation, 4th edition,WB Saunders, 1990;1070-1101
Tindakan amputasi dilakukan apabila secara maksimal terapi yang diberikan dinyatakan gagal. Apley (1993) menyatakan indikasi amputasi adalah 3 D :
a. Dead (anggota tubuh yang mati): kelainan vaskuler, trauma, luka bakar atau "frost bite"
b. Dangerous (anggota tubuh yang membahayakan) : tumor ganas, infeksi yang mengarah ke
sepsis atau "crush injury" dengan resiko
c. Damn Nuisance (anggota tubuh yang mengganggu) : kelainan kongenital, nyeri yang hebat,
gangguan fungsi yang berat atau infeksi kronis yang berulang.(1)
LEVEL AMPUTASI ANGGOTA GERAK ATAS
Terdapat level - level optimal amputasi, tetapi level optimal tersebut tidak dapat dipilih khususnya pada kasus trauma misalnya kecelakaan. Prinsip tindakan bedah adalah mempertahankan jaringan lunak yang hidup dan tulang sepanjang mungkin, tetapi untuk pemasangan prostesis dengan potongan sedikit dari level optimal perlu dipertimbangkan.
Level amputasi pada above elbow diukur dari akromion sampai ujung puntung, pengukuran dibandingkan dengan sisi yang sehat (akromion sampai epikondilus lateralis), dan dinyatakan dengan prosentase:
Level amputasi bawah siku diukur dari epikondilus medialis ke ujung ulna atau radius dari puntung dan dibandingkan ke ujung prosesus stiloid ulna pada sisi sehat. (3,7)

Level Amputasi Anggota Gerak Atas
TEKNIK OPERASI DAN EVALUASI
Teknik dari amputasi terdiri dari :
1. Myodesis
2. Myoplasti (1,5)
Teknik dan indikasi dari tindakan amputasi untuk evaluasi dari puntung sangat penting. Hal yang perlu dievaluasi adalah :
1. Kondisi secara umum yaitu status mental penderita dan kondisi fisik penderita (vital sign,
penyakit penyerta)
2. Kondisi secara lokal (puntung) yaitu panjang puntung, bentuk puntung, tipe dan posisi dari
jaringan parut insisi, luas gerak sendi dan stabilitas dari persendian.(3,4,6)
DEFINISI PROSTESIS
Prostesis adalah suatu alat pengganti bagian tubuh yang hilang. Prostesis ini mengganti fungsi yang sangat komplek dari anggota gerak. Prostesis ekstremitas atas diperlukan pada defisiensi tulang kongenital atau amputasi karena trauma atau penyakit. Prostesis ekstremitas atas dipakai untuk tujuan kosmetik atau untuk fungsional. Prostesis ekstremitas atas dirancang untuk memberikan kembalinya fungsi semaksimal mungkin. Dan mengorbankan kosmetik sesedikit mungkin.(3,4)
PENANGANAN REHABILITASI PENDERITA AMPUTASI
Penanganan rehabilitasi penderita amputasi ada beberapa tahap, yaitu:
a. Penanganan Sebelum Prostesis
1. Sebelum operasi
Sebelum menjalani operasi, penting dijelaskan mengenai persiapan sebelum operasi, komplikasi yang akan terjadi dan perawatan setelah operasi. Juga ditanyakan pada penderita kesediaan memakai prostesis dan jenis prostesis yang akan diberikan.
Pemberian latihan sebelum operasi dapat berupa :
a. Latihan penguatan dari seluruh otot
b. Latihan luas gerak sendi
c. Latihan untuk ADL
2. Setelah operasi
a. Penyembuhan luka operasi yang adekuat
b. Mengontrol nyeri
c. Melihat performa dari ADL nya
d. Mobilitas
e. Mempertahankan luas gerak sendi dari bagian anggota gerak yang diamputasi
f. Menyiapkan stump untuk pengukuran prostesis
g. Menerangkan mengenai pengukuran dan perawatan prostesis
h. Mensuport terhadap perubahan akibat amputasinya
b. Penanganan Stump
Untuk mempercepat kesembuhan luka, mencegah trauma, mengurangi edema, serta mengurangi nyeri dapat diberikan a plester of Paris atau rigid dressing yang terbuat dari fiberglass jika tidak ada rigid dressing dapat dipakai elastic bandage atau elastic stockinette dan harus dipakai selama 24 jam kecuali saat mandi atau saat luka dibersihkan.
c. Penanganan Pemasangan Prostesis
Melalui beberapa tahap :
1. Prosthesis fitting
Dimulai bila stump sudah siap untuk casting kemudian dilanjutkan dengan definitive prosthesis. Selain kondisi stump perlu diperhatikan keadaan di bawah ini
a. Keadaan kulit yang menutup stump
b. Luas gerak sendi dari stump
c. Kekuatan otot
d. Kontrol motorik
e. Kelainan saraf
Stump Myoplasti
2. Tujuan pembuatan prostesis
Prostesis dibuat dengan 3 tujuan yaitu :
a. Fungsional
b. Kosmetik
c. Fungsional dan kosmetik
Prostesis dapat direncanakan secara khusus misalnya untuk spesifik vokasional, rekreasional, keperluan sosial atau pengoperasiannya dengan elektrik. Dengan makin berkembangnya bahan yang ditemukan, design baru, dan teknik fitting yang baik dapat tercapai hasil yang optimal artinya prostesis tersebut dibuat lebih nyaman kalau dipakai, indah, dan sesuai dengan tujuan fungsional.
3. Preparatory prosthesis
Keuntungan dari preparatory prostesis adalah bila keadaan stumpnya sudah matur. Pasien biasanya diijinkan untuk mencoba beberapa bulan sebelumnya dalam memakai prostesis untuk menentukan prostesis apa yang kelak akan dicapai. Selama tes percobaan tersebut, diharapkan pasien dapat mempelajari apa yang kelak akan dilakukan dengan prostesis tersebut.
Kadang - kadang preparatory prosthesis tidak dapat diberikan karena masalah finansial. Pasien biasanya langsung memakai definitive (final) prosthesis. Jika pasien langsung memakai final prostesis tanpa dilakukan preparatory prostesis, hal ini harus ditunda sampai residual limb-nya matur (biasanya 3-4 bulan).
4. Definitive prosthesis
Pembuatan definitive prostesis mengikuti tahap :
a. Membuat cast pada stump
b. Membuat plaster positive pada stump
c. Memodifikasi plaster positive yang terbentuk dengan maksud mengurangi area yang
toleran terhadap tekanan dan menambah plaster ke area yang sensitive tekanan terhadap
stump.
d. Membuat socket
e. Mencoba socket
f. Membentuk plaster positive
g. Menyempurnakan socket dengan termoplastik atau pelapis socket
Proses Fitting
Definitive Prosthesis
5. Evaluasi akhir prostesis
Yang perlu dievaluasi adalah :
a. appropriate fitting (tepat / cocok)
b. alignment
c. length (3,4)
d. Karakteristik prostesis yang baik
Sebuah prostesis harus nyaman digunakan, mudah dilepas dan dipasang, ringan, daya tahan kuat, dan baik secara kosmetik. Prostesis juga harus berfungsi baik secara mekanik dan dapat mudah dirawat. Compliance prostesis sendiri sangat tergantung pada motivasi individu untuk memakainya. (8)
e. Beberapa pertimbangan saat memilih prostesis
1. Level amputasi
2. Fungsi yang diharapkan dari prostesis
3. Fungsi kognitif pasien
4. Pekerjaan pasien
5. Aktivitas yang diminati pasien (mis : hobby)
6. Penting tidaknya kosmetik pada prostesis
7. Sumber keuangan pasien (8)
Myoelectric Hand
Body Powered Terminal Device
Hybrid Terminal Device : SeeMED (Servo Electric Mechanical Terminal Device)
KOMPONEN BELOW ELBOW PROSTHESIS (BAWAH SIKU)
Prostesis atas siku terdiri dari :
a. Terminal Device
b. Wrist unit
c. Socket
d. Elbow Hinges
e. Harness suspension dan system control (3,4,7)

Komponen Below Elbow Prosthesis 3
PUSTAKA
1. Apley AG. Orthopaedic Operations. In : Apley’s System Of Orthopaedics and Fractures 7th Ed. Butterworth Heinemann. Oxford, 1993. pp 251-258.
2. Bender LF. Upper Extremity Prosthetics In : Kottke FJ, Lehmann JF. Krusen’s Handbook of Physical Medicine & Rehabilitation. WB. Saunders Company. Philadelphia, 1990.pp 1009 – 23.
3. Berger N. Upper Limb Prosthetic System In : The American Academy of Orthopaedic Surgeons. Atlas of Limb Prosthetics Surgical and prosthetic Principles. The CV. Mosby Company. Missouri, 1981.pp 97 – 158.
4. Celikyol Fg. Amputations and Prosthetics In : Occupational Therapy for Physical Dysfunction 5th Ed. Lippincott Williams & Wilkins. Maryland 2002.pp. 1045-1069
5. Esquenazi A. Upper Limb Amputee Rehabilitation and Prosthetic Restoration In : Braddom RL. Physical Medicine & Rehabilitation. 4th ed. WB. Saunders Company. Philadelphia, 1996.pp 275-88.
6. Reed KL. Amputation of an Upper Extremity – Adult In : Quick Reference to Occupational Therapy. Aspen Publishers. Maryland, 1991 pp. 212 -215.
7. Tan JC. Prostheses In : Practial Manual of Physical Medicine and Rehabilitation. The CV. Mosby Company. Missouri, 1998. pp 229-59.
8. Edward SG.Elbow and Above-Elbow Amputations. Downloaded at 12:23 PM.13/10/07 .www.emedicine.com
9. Daley BJ. Electrical Injury.Downloaded at 13.05 PM.13/10/07. www.emedicine.com /med/byname/Electrical-Injuries.htm
10. Kowalske K, Helm P, Burn in : Garrison SJ, Handbook of Physical Medicine and Rehabilitation, 2nd edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2003;67-78.
11. Rivers E, Fisher SV, Rehabilitation for burn Patient in : Krusen’s handbook of physical medicine and rehabilitation, 4th edition,WB Saunders, 1990;1070-1101
Kamis, 28 Agustus 2008
Membakar HHO
Hati-hati, tidak untuk ditiru...
Membakar kantong plastik 1/2 kg berisi HHO hasil elektroliser.
Membakar kantong plastik 1/2 kg berisi HHO hasil elektroliser.
Jumat, 11 April 2008
Elektroliser Sederhana
Untuk membuat elektroliser, bahan-bahan yang diperlukan :
1. Toples kaca, ukuran 12 x 9 cm, atau silakan pilih ukuran toples masing2



2. Lembar plastik tebal atau akrilik, dibentuk persegi panjang (sesuai tinggi toples), dilekatkan satu sama lain berbentuk +. Boleh bahan apa saja yang penting tidak dari logam dan tahan air.
3. Kawat stainles steel (Paling mudah pakai string gitar yang no. 3) 2 buah
4. Bekas pentil ban dalam 2 buah (Bisa minta ditempat tambal ban), plus 1 tutup pentil
5. Baut (panjang sekitar 2 cm), mur dan ring, satu pasang.
6. Triflow (cabang 3, bisa dibeli di tempat toko ikan/ alat2 aquarium), plus selang kecil
7. Selang vaccum
8. Kabel (isi dua) sekitar 2 meter
9. Sekering
10. Lighter Plug (bila menggunakan Cigarete lighter di kabin)
11. Lem plastik (Hot Glue)
12. Soda Kue (Sodium bikarbonat) sebagai katalis
13. Demineralised Water (Air Accu/suling, bukan Zuur)
Cara membuat :
1. Lekatkan tempat (lembar plastik) lilitan kawat pada tutup toples menggunakan hot glue.


2. Lubangi tutup toples, 2 untuk pentil dan 2 untuk baut.
3. Pasang pentil, dan eratkan, tambahkan hot glue agar tidak bocor. Lekatkan selang kecil pada salah satu pentil yang akan dipakai untuk vaccum kontrol, sepanjang tempat lilitan.
4. Pasang baut dan ring disisi dalam tutup toples, kaitkan kawat stainless dan lilitkan sepanjang batang plastik sampai ke dasar, kaitkan diujung dasar. Sama dengan baut yang satunya. kedua kawat jangan saling dihubungkan. Eratkan baut dari sisi luar tutup toples. beri hot glue pada sisi dalam baut dan luar.
5. Sambungkan kabel ke tiap terminal baut. Salah satu kabel dipasang sekering. Sebaiknya disambungkan ke terminal yang "on" saat kunci kontak "on"
Persiapan Operasional
1. Isi toples dengan Air, sisakan 2 cm dibawah permukaan tutup toples, beri satu sendok teh soda kue, aduk hingga larut.
2. Tutup toples dengan erat.

3. Sambungkan selang vaccum ke salah satu pentil, tambahkan tri flow, beri cabang ke inlet manifol, dan satunya ke inlet di bagian saringan udara (pre karburator) (lihat gambar).Tutup salah satu pentil dengan tutup pentil.
4. Sambungkan kabel pada terminal di toples.
5. Hidupkan kunci kontak, bila didalam toples timbul gelembung putih, maka Hidrogen telah terbentuk.
6. Hidupkan mesin, maka akan ada udara luar yang masuk ke dalam toples, warna air menjadi putih karena penuh dengan gas hidrogen. Selang didalam toples akan mengeluarkan gelembung. Atur vaccum didalam toples dengan memutar tutup pentil.
7. Coba bedakan bunyi mesin, dan bau gas buang.
Selamat Mencoba
1. Toples kaca, ukuran 12 x 9 cm, atau silakan pilih ukuran toples masing2
2. Lembar plastik tebal atau akrilik, dibentuk persegi panjang (sesuai tinggi toples), dilekatkan satu sama lain berbentuk +. Boleh bahan apa saja yang penting tidak dari logam dan tahan air.
3. Kawat stainles steel (Paling mudah pakai string gitar yang no. 3) 2 buah
4. Bekas pentil ban dalam 2 buah (Bisa minta ditempat tambal ban), plus 1 tutup pentil
5. Baut (panjang sekitar 2 cm), mur dan ring, satu pasang.
6. Triflow (cabang 3, bisa dibeli di tempat toko ikan/ alat2 aquarium), plus selang kecil
7. Selang vaccum
8. Kabel (isi dua) sekitar 2 meter
9. Sekering
10. Lighter Plug (bila menggunakan Cigarete lighter di kabin)
11. Lem plastik (Hot Glue)
12. Soda Kue (Sodium bikarbonat) sebagai katalis
13. Demineralised Water (Air Accu/suling, bukan Zuur)
Cara membuat :
1. Lekatkan tempat (lembar plastik) lilitan kawat pada tutup toples menggunakan hot glue.
3. Pasang pentil, dan eratkan, tambahkan hot glue agar tidak bocor. Lekatkan selang kecil pada salah satu pentil yang akan dipakai untuk vaccum kontrol, sepanjang tempat lilitan.
4. Pasang baut dan ring disisi dalam tutup toples, kaitkan kawat stainless dan lilitkan sepanjang batang plastik sampai ke dasar, kaitkan diujung dasar. Sama dengan baut yang satunya. kedua kawat jangan saling dihubungkan. Eratkan baut dari sisi luar tutup toples. beri hot glue pada sisi dalam baut dan luar.
5. Sambungkan kabel ke tiap terminal baut. Salah satu kabel dipasang sekering. Sebaiknya disambungkan ke terminal yang "on" saat kunci kontak "on"
Persiapan Operasional
1. Isi toples dengan Air, sisakan 2 cm dibawah permukaan tutup toples, beri satu sendok teh soda kue, aduk hingga larut.
2. Tutup toples dengan erat.
3. Sambungkan selang vaccum ke salah satu pentil, tambahkan tri flow, beri cabang ke inlet manifol, dan satunya ke inlet di bagian saringan udara (pre karburator) (lihat gambar).Tutup salah satu pentil dengan tutup pentil.
5. Hidupkan kunci kontak, bila didalam toples timbul gelembung putih, maka Hidrogen telah terbentuk.
6. Hidupkan mesin, maka akan ada udara luar yang masuk ke dalam toples, warna air menjadi putih karena penuh dengan gas hidrogen. Selang didalam toples akan mengeluarkan gelembung. Atur vaccum didalam toples dengan memutar tutup pentil.
7. Coba bedakan bunyi mesin, dan bau gas buang.
Selamat Mencoba
Rabu, 09 April 2008
Memecah Air
Elektroliser saat di aktifkan menghasilkan hidrogen (gelembung keputihan)
serta gelembung oksigen (bening).
Saat mesin running, hidrogen bercampur dengan oksigen yang dihasilkan elektrolisis dan udara yang masuk melalui kontrol vakum.
Kabel untuk suplai tegangan 12 volt pada VW ini memanfaatkan lighter cigarete. Bila tidak ada bisa disambungkan pada instrument yang hanya ada tegangan saat kunci kontak "on" untuk menghindari produksi gas saat mesin mati, jangan lupa ditambahkan sekering.
Selasa, 08 April 2008
Membakar Air
Mesin Beetle 1303 ini telah ditambah Elektroliser untuk mensuplai Hidrogen dan Oksigen ke dalam ruang bakar. Hasilnya bensin lebih irit 50% , suara mesin lebih halus, bau asap knalpot tidak menyengat, tarikan yahuiii.
Kamis, 06 Desember 2007
Kucing dan Harimau
Bila anda dihadapkan suatu pilihan, manakah yang anda pilih : Menjadi ekor harimau atau menjadi kepala kucing ???
Sabtu, 01 Desember 2007
Senin, 19 November 2007
Jumat, 16 November 2007
Kedokteran Fisik & Rehabilitasi
Blog ini juga tempat bertukar informasi dan konsultasi khususnya di bidang Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi.
Belum banyak dari masyakarat bahkan kalangan praktisi kesehatan yang mengetahui tentang kedokteran fisik dan rehabilitasi, apakah sebenarnya yang dikerjakan bidang kedokteran ini .
Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang menangani dengan komprehensif disabilitas (kecacatan) akibat penyakit atau injury yang mengenai sistem neuro-muskulo-skeletal dan kardiorespirasi dan gangguan psiko-sosio-vocasional yang menyertainya.
Tujuan dari Bidang ilmu ini adalah :
1. Menghilangkan Kecacatan
2. Mengurangi kecacatan sebanyak mungkin
3. Melatih orang-orang dengan kecacatan semaksimal potensial yang dimilikinya.
Belum banyak dari masyakarat bahkan kalangan praktisi kesehatan yang mengetahui tentang kedokteran fisik dan rehabilitasi, apakah sebenarnya yang dikerjakan bidang kedokteran ini .
Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang menangani dengan komprehensif disabilitas (kecacatan) akibat penyakit atau injury yang mengenai sistem neuro-muskulo-skeletal dan kardiorespirasi dan gangguan psiko-sosio-vocasional yang menyertainya.
Tujuan dari Bidang ilmu ini adalah :
1. Menghilangkan Kecacatan
2. Mengurangi kecacatan sebanyak mungkin
3. Melatih orang-orang dengan kecacatan semaksimal potensial yang dimilikinya.
Cipta
"Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan begitu sempurnanya, tetapi banyak yang tidak mensyukuri hal itu"
Langganan:
Postingan (Atom)










